Terlunta di Malaysia

Circa 2015.

Merupakan perjalanan kedua gue keluar negeri dan pertama kalinya menjadi independent travel. Berawal dari ajakan teman-teman sekantor, tercetuslah ide long weekend ke Malaysia yang bertepatan dengan hari buruh yang nantinya ini jadi inti cerita terlunta di negeri orang. Kita gak nyangka ternyata saat itu hari libur bener-bener panjang di Malaysia, gak cuma Labor Day, tapi ada hari libur lainnya juga lupa sih kalau gak salah Vesak, di Penang pun hari libur pun masih berlanjut sampai hari Selasa. Gak ngerti itu libur apaan aja.

Problem lainnya adalah gak satupun dari kami yang punya cc, jadi kami coba booking hotel via third party dengan opsi yang tidak perlu guarantee cc.

Karena pesawat landing hampir tengah malam, kami pun sudah berencana untuk tidur di KLIA -yes, ini pertama kalinya gue ngerasa kok rasanya nelangsak banget ya mau jalan-jalan doang, tapi sekarang gue sudah khatam jadi orang susah kok (baca: terbiasa tidur di bandara)- dan besok subuhnya lanjut ke Penang via Puduraya. Dalam perjalanan ke Puduraya, gue sempet-sempetnya kena modus ABG bangladeshi yang ceritanya ngajak kenalan dan minta tukeran facebook, males ngeladenin yaudah gue tinggal tidur aja…eh ternyata dia tidur juga (atau pura-pura tidur?) tapi sambil nyenderan dan ndusel-dusel ke bahu gue…Err! Akhirnya sepanjang perjalanan gue duduk tegap maju dan kepala nyender ke bangku depan, lanjut tidur lagi. Temen-temen yang lain mana? Pada duduk cekikikan dibelakang.

Sampai di Puduraya ternyata loket tiket masih pada tutup, kita pun nyari sarapan dulu, nemu restoran Anuja persis disebrang Puduraya, murah dan enak.

Begitu loket sudah buka, kami pesan 5 tiket untuk ke Penang, hampir semua tiket bus habis pagi itu, tapi kami berhasil beli. But shit happens sometimes mendekati jam keberangkatan kami dapat info kalau bus nya mogok, jadi semua tiket di refund. Mencoba untuk tidak panik, tapi ujung-ujungnya tetep panik saya dan teman-teman langsung mencar nyari loket lain karena pada saat itu hampir semua tiket untuk hari itu habis, dan bener aja setelah lari-lari dari nyari loket lain kita dapat bus dengan jadwal yang siang banget. Sambil nunggu waktu keberangkatan, akhirnya kita muter-muter sekitar Petaling.

IMG_4714

Setelah keliling Chinatown, Guandi Temple dan Sri Mahamariamman Temple, kita balik ke Puduraya. Ternyata, perjalanan dari KL – Butterworth Penang macet total, yang biasanya memakan waktu 4 jam kalau gak salah kita sampe 8 jam deh. Seinget saya sampai di Penang itu hampir jam 10 malam.

Sudah capek, lengket mau rebahan ternyata keberuntungan belum memihak juga begitu sampai dipenginapan ternyata kami dianggap no show karena late check in dan kamar kami sudah dikasih ke orang. Kebetulan nasib kami sama kaya mbak bule dari Europe, akhirnya mereka ngajakin kita keluar dari hostel dari cari penginapan lain karena percuma ngomel karena kita semua lupa ngabarin ke hostel kalau kita kejebak macet dan kita gak kasih guarantee cc atau pun uang. Pasrah akhirnya coba nyari hotel lain dan ternyata hampir semua penginapan di Georgetown fully booked. Iya, kita jalan kaki tengah malem masuk ke tiap hostel. Sedih ya, gak ada satupun yang kepikiran cek agoda, traveloka atau apapun itu, untuk liat penginapan yang available, entah kenapa kayanya jaman itu masih pada polos.

Akhirnya kita istirahat di 7-11 yang kebetulan sebelahan sama Tune Hotel, karena hujan akhirnya kita dengan muka lempeng masuk ke dalam lobby hotel terus tidur-tidur ayam. Gak ditegor sama sekali sama satpam untungnya..hahaha. Besok subuhnya kita gantian mandi di toiletnya Tune dan langsung cabut takut kena omel sama satpam kalau udah keburu terang.

Kebayang kan moodnya cewek-cewek kurang tidur, mandi ala kadarnya, badan sakit semua,  tapi untung semua terbayar pas kita dapet sunrise di Penang Port langsung foto-foto dan kita happy lagi. Not a best sunrise sih, tapi happy aja. Anaknya mureh!

DSC_0015

Setelah muter-muter dan sarapan disekitar Penang port, salah satu teman gue memutuskan balik ke Tune aja, capek katanya, mungkin karena gak enak hati satu temen gue yang lain pun nyusul ikut nemenin. Well, agak gak enak sih kasihan juga tapi rugi banget kalau gak muter-muter lagi, akhirnya gue, Sosan dan Udit pun lanjut untuk berburu street art di Armenian street, dan berakhir di Kek Lok Si Temple.

IMG_4918.JPG

Akhirnya setelah hampir seharian muter-muter, kami balik lagi ke Tune jemput teman kami dan langsung balik ke Butterworth buat nyari bus ke KL. Hampir tengah malam sampai di KL, dan untungnya kami ditampung sama om nya Sosan yang tinggal di KL. Terimakasih banyak om nya Sosan, akhirnya bisa tidur dan mandi dengan nyaman!

Besoknya kita didrop Om nya Sosan ke Petronas dan Suria KLCC habis itu lanjut ke KLIA lalu balik ke Jakarta.

Pengalaman traveling ini bisa dibilang pas masih cupu banget. Tapi bener aja pengalaman ini gak bakal kami lupain, mulai dari mandi di toilet umum, berantem sama supir bus di terminal dan drama-drama lainnya. Kapan lagi beneran jadi gembel di negeri orang, walaupun di trip selanjutnya tetep jadi gembel sih.

Hidup gembel nan mureh (?).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s